Sunday, February 5, 2012

H*NDA; THE POWER OF ME (H*nda; Semangatku)


Sing tatag bakal tutug (yang tangguh akan sampai pada tujuannya).
Sms singkat dari Bapak itu selalu menguatkanku. Kalimat singkat yang dalam makna. Kalimat itulah yang mungkin selalu membuatku tangguh. Di antara beban kuliah, organisasi dan pekerjaanku.
Mirip Lotus
Namaku Nimas Mayang Sabrina S. Orang-orang di sekelilingku biasa memanggilku May. Usiaku dua puluh tiga tahun. Aku kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri di Malang, Jawa Timur. Semester akhir. Sebentar lagi aku akan menjadi seorang sarjana. Sarjana Teknologi Pertanian. Kalau aku seumur Bapak dan Mami, aku pasti akan dipanggil Bu insinyur.
Menjelang kelulusanku yang tinggal satu langkah ini, kembali berputar banyak kenangan dalam layar putih ingatanku. Banyak fragmen dalam perjalananku. Kerja keras, sahabat, tawa, canda, tangis, bahagia.
Semester pertama, kuliah kulalui dengan biasa-biasa saja. Tinggal di kontrakan putri dengan aktifitas biasa. Belajar, kuliah, praktikum, rapat organisasi, pulang ke kontrakan, tidur. Begitu saja setiap hari. Dan sebagai anak seorang guru SD biasa, aku harus benar-benar hemat dan hidup bersahaja. Kiriman uang dari gaji Mami harus aku manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Sedang dari Bapak, kami biasa tidak terlalu berharap.
Kondisi ini kusyukuri dengan berjuang keras. Memang, Mayang adalah perjuangan tanpa henti-henti. Seperti lagu Dewa. Keadaan mencapai puncak saat aku berhasil meraih IP tertinggi sefakultasku. Mami dan Bapak tentu bangga. Dengan kabar gembira itu, aku ringan menghubungi Mami di rumah. Mami senang. Bahagia. Tapi kala itu tak kutemui Bapak.
Malam harinya Bapak menghubungiku. Mengucapkan selamat dan bercerita tentang keadaan rumah. Cerita Bapak malam itu membuatku tercenung. Cerita yang tak dibeberkan Mami ketika aku telpon tadi pagi. Cerita yang melelehkan mataku. ”Motornya dijual May”.  H*nda Astrea Grand hasil cicilan Mami tiap bulan itu dijual. Sejak Bapak bangkrut dari usaha kerajinan sepatunya ketika aku masih kelas tiga SMA dahulu, memang kondisi keuangan keluarga kami semakin terpuruk.
”Terus, Mami pergi ke sekolah naik apa, Pak?” ”Mami naik angkot May. Bapak tidak bisa berbuat banyak. Semoga kita mendapatkan ganti secepatnya” Kata-kata Bapak berikutnya tidak begitu terdengar jelas. Hanya permintaannya agar aku bersabar yang tersisa di akhir pembicaraan kami malam itu.
Sepeda motor itu, meskipun model lama, tetapi cukup setia menemani kami. Dia yang kugunakan untuk belajar naik sepeda motor pertama kali ketika aku masih kelas tiga Sekolah Menengah Pertama. Dengan sepeda motor itu, Bapak mengantar dan menjemput Mami mengajar di Sekolah Dasar yang terletak di pinggiran kota kecil di kaki Gunung Lawuku. Sepeda motor itu biasa kupakai untuk mengambil kiriman makanan untuk keluargaku dari rumah Nenek di kelurahan sebelah. Dan ternyata dia juga menolong keluargaku di saat-saat tersulit. Kata Bapak, harga jual kembalinya lumayan. Cukup untuk mencoba usaha yang baru, mengirim uang sakuku untuk beberapa bulan, uang gedung dan SPP, membayar uang sekolah adikku dan masih tersisa untuk kondisi yang tak terduga.
Aku mencoba menata hati. Mencari hikmah dan pertolongan. Kutelisik kembali labirin memori. Ingatanku kembali tertuju pada mbah kakung1. Mbah kakungku dulu pasti juga mengalami saat-saat kehilangan sepertiku saat ini. Dulu, saat aku duduk di kelas dua Sekolah Menengah Pertama, Mbah Kakung juga terpaksa menjual salah satu sepeda motor H*ndanya. Sepeda motor tipe Astrea berwarna merah. Model lama. Aku lupa tipenya. Mungkin dulu dibeli ketika aku masih duduk di taman kanak-kanak. Tahun delapan puluhan.
Seperti sepeda motor kami, sepeda motor itu juga telah menemani Mbah Kakung selama bertahun-tahun. Mungkin ikatan hatinya lebih erat. Sepeda motor itu dulu dipakai Mbah Kakung membeli bensin di POM setiap hari. Pukul empat pagi, bahkan sebelum adzan subuh berkumandang. Dua jurigen besar ditempatkan di tempat jurigen yang terbuat dari kantong beras bekas buatan mbah uti2 di sisi kanan dan kiri bagian belakang motor. Mungkin kapasitasnya sekitar lima puluh liter. Setelah itu, Mbah Kakung pergi mengajar di STM Negeri di luar kota, yang berjarak sekitar tiga puluh kilometer arah timur kota kami. Setiap hari. Mbah Kakung berangkat pagi-pagi sebelum matahari terlalu tinggi. Jam lima lewat lima belas menit. Siangnya  Mbah Kakung mengajar lagi di STM Swasta di kota kami. STM yang dia dirikan bersama teman-teman di Yayasannya. Baru malam hari, sepulang dari dari kios bensinnya, Mbah Kakung baru bisa beristirahat, setelah istirahat pendeknya sehabis shalat Ashar.
Aktifitas ini berlangsung selama bertahun-tahun. Dan melekat erat di memoriku. Semangat kerja keras Mbah Kakung. Sejak aku belum bersekolah sampai masa remajaku. Saat di mana aku sudah bisa melihat sesuatu dan menilainya dengan cara pandangku.
Semuanya berhenti saat tiba-tiba Mbah Kakung sakit dengan kandungan haemoglobin darah yang terus menerus turun jika tidak ditransfusi. Ada yang bilang mbah kakung sakit Thalasemia, ada yang bilang mbah kakung sakit Leukimia.   Mbah kakung harus ditransfusi setiap bulan. Jika tidak, haemoglobin Mbah Kakung akan terus berkurang dan kondisi kesehatannya akan terus menurun.
Sebenarnya Mbah Kakung sudah ingin istirahat saja. Tidak ingin ditransfusi. Akan tetapi, Mbah Kakung ingin melihat om menikah. Akhirnya tiga bulan menjelang om menikah, Mbah Kakung memutuskan untuk menjual jagoannya. H*nda Astrea itu. Untuk mempertahankan hidupnya. Meraih keinginannya. Membahagiakan orang yang ada di sekitarnya. Sekali lagi. H*nda menolong di saat-saat tersulit. Di masa sehatnya, H*nda tangguhnya jarang rewel demi menemaninya bekerja keras mencari nafkah untuk keluarganya. Di masa sakitnya, H*nda menjadi iinvestasi nyata yang bisa diandalkan. Mungkin tanpa disadari, H*nda memang telah menemani Mbah Kakung sebagai sahabat. Sahabat pilihan bagi orang-orang pilihan seperti mbah kakung. Mbah Kakung pasti sedih berpisah dengan sahabat yang telah menemaninya sejak lama.
Sejenak hatiku terhibur. Kulebur diriku bersama semangat Mbah Kakung. Dan ternyata hidupku kembali. Dengan semangat, doa dan harapan. Seperti kata Bapak, aku boleh menyelipkan doa agar kami mendapatkan ganti yang lebih baik dari  sepeda motor kami yang telah berpindah tangan.
Doaku terjawab dengan diterimanya aku bekerja paruh waktu di sebuah swalayan yang tidak jauh dari kampusku pada semester kedua kuliahku. Dengan sisa semangat dan harapan yang masih kupunya, aku mencoba untuk bekerja, membantu perekonomian keluarga dengan membiayai kuliahku sendiri. Dengan begitu, kuharap Mami bisa menabung dan kembali membeli ganti H*nda Astrea kami.
Keadaan di rumah membaik. Setelah mengumpulkan uang beberapa lama, Mami bisa membeli sepeda motor H*nda Astrea Star bekas keluaran tahun 1988. Tidak terlalu buruk kondisinya. Sedangkan Bapak mendapat pekerjaan untuk memasarkan satu merk rokok. Bapak mendapat pinjaman sepeda motor dari pabrik. Alhamdulillah, Mami tidak perlu lagi naik angkot ke sekolah.
Di Malang, kondisiku juga semakin membaik. Selain mendapat gaji dari pekerjaanku, ternyata aku juga mendapat beasiswa yang semakin meringankan langkahku. Anganku melambung lagi. Aku ingin menabung. Memiliki sepeda motor sendiri adalah impianku. Apalagi ketika perjalanan tempat kerja ke kampusku lumayan memakan energi jika kutempuh dengan berjalan. Jika naik kendaraan umum, tentu akan sedikit terasa di dompetku.
Saat kuutarakan niatku pada Bapak, Bapak melarangku membeli motor sendiri. Beliau mengharapkan aku bsa menabung untuk masa depanku. Jadi, Bapak berjanji akan memperbaiki sepeda motor yang dibeli oleh Mami dan akan mengirimkannya ke Malang untukku.
Bagian yang paling seru adalah saat kita memberi nama motor butut baruku itu saat. Kata bapak disuruh menamai Kebo Giro, katanya Kebo Giro itu tumpangan tokoh pewayangan entah siapa namanya. Tapi mami tidak setuju. Katanya lebih baik dinamai Lembu Andini. Katanya lebih feminin, tapi kupikir nama itu terlalu panjang. Kata adikku lebih baik dinamai Buroq, tumpangan Rasulullah. Jadi bingung akhirnya. Tapi tiba-tiba mami  nyeletuk lebih baik dinamai Lotus saja. Kata mami, Lotus itu artinya Teratai. Bunganya indah dan tangguh. Kalau lihat di film Kera Sakti, Lotus itu tumpangan Dewi Kwan In. Kata Mami,”Mbak May kan mukanya agak mirip sama Dewi Kwan In!” Ah, mami bisa saja. Tapi akhirnya kami sepakat menamainya Lotus. 
30 November 2006. Tepat di hari ulang tahunku ke 22. Bapak mengantarkan Lotus sendiri ke Malang. Mengendarainya sendirian dari kotaku di Lereng Gunung Lawu di ujung barat Jawa Timur sampai ke Malang, tempatku menuntut ilmu. Aku agak kaget  melihat kenyataan bahwa ternyata Lotus tangguh juga. Aku mengira Bapak mengirimnya lewat pos atau jasa penitipan, tapi ternyata tidak. Lotus tua masih cukup tangguh di tangan penjelajah jalanan seperti Bapak. Sampai saatnya Lotus tiba di Malang, aku merasa Lotus tua terlihat lebih istimewa. Ada cinta Bapak dan harapan orang rumah di sana. Ah, Lotus. Andai manusia, pasti akan kupeluk engkau.
Lotus, meskipun modelnya antik, tidak seperti punya teman-teman di kampus yang keluaran terbaru, tapi itu cukup bagiku. Membuatku semakin semangat berjuang. Lotus sering menyelamatkan di saat detik-detik terakhir jam mulai kuliahku. Lotus menemaniku berjalan-jalan di kota Malang. Saat aku butuh buku di Pasar Buku Bekas ‘Wilis’, saat aku berangkat rapat di pagi hari, saat aku mengantar teman sekelasku pulang ke kosnya. Bahkan saat aku merasa cemas dan mempunyai beban yang tidak bisa kubagi, aku bercerita kepada Lotus seperti bercerita kepada buku harian atau kepada mami. Hal itu terkadang kurasa lebih membuatku nyaman, karena Lotus tak akan menertawakanku. Kadang-kadang aku memang berlebihan.
Lotus siap menemaniku di pagi, siang dan malam hari. Kata teman kerjaku, Lotus itu tidak seperti P*sodent yang setia dua belas jam, Ba*gon yang setia dua puluh empat jam, H*t yang setia empat puluh delapan jam, tapi Lotus itu seperti Rex*na yang setia setiap saat. Dasar pegawai swalayan, semuanya dikaitkan dengan barang dagangan! Temanku memang paling bisa jika mengolok-olok kedekatanku dengan Lotus.
Sering ketika akan menghidupkan mesinnya, dan Lotus agak bandel, pasti akan kuelus kepalanya (aku selalu menganggap spedometer Lotus itu kepalanya!). Dan bisa dipastikan tukang parkir di swalayan tempat aku bekerja tergelak dan menggelang-gelengkan kepalanya.
Pernah suatu kali aku kecewa dengan Lotus. Dia mogok tiba-tiba. Aku bingung harus berbuat apa. Sebagai seorang gadis, aku tidak terlalu familiar dengan hal-hal yang bersangkutan dengan mesin. Aku diam saja dan mengingat-ingat, apa yang dilakukan Bapak atau Adik laki-lakiku jika sepeda motor kami di rumah mogok. Aku mulai mengecek bensinnya. Tapi seingatku aku baru saja mengisinya dan Lotuspun tidak boros dalam hal bensin. Aku bingung. Sampai akhirnya tukang parkir yang ada di lapangan parkir gedung kuliahku datang untuk menolong. Sejurus kemudian tukang parkir memeriksa Lotus. Setelah mengidentifikasi selama beberapa saat, tukang parkir tersebut mengatakan bahwa busi Lotus kotor. Dengan sedikit sentuhan, Lotus bisa dihidupkan kembali. Dari pengalaman tersebut, aku menjadi sadar bahwa tidak boleh hanya sekedar sayang kepada Lotus, tetapi harus tetap melakukan prosedur perawatan secara berkala. Karena prosedurnya tidak terlalu rumit, aku yakin aku bisa melakukannya sendiri kelak.
Aku bersyukur karena Lotus mudah untuk diperiksa dan diperbaiki. Kemarin, terakhir aku mengambil barang dengan kendaraan swalayan, rumit sekali untuk memperbaiki kendaraan itu ketika rewel. Kebetulan swalayan kami memiliki kendaraan roda dua yang mempunyai merk di luar H*nda. Kendaraan tersebut sering sekali rewel, apalagi di musim hujan seperti sekarang ini. Setelah dipakai ketika hari hujan, setelah itu susah untuk distarter. Ketika mas di bengkel sebelah swalayan kami akan melihat businya, ternyata harus membongkar banyak mur dan baut di bagian depan kendaraan tersebut. Hanya untuk mengecek busi. Diperlukan waktu yang lama dan biaya yang semakin mahal. Kegiatan swalayan menjadi terganggu. Swalayan tidak bisa mengambil dan mengantar barang serta melakukan setoran uang ke bank. Aku teringat Lotus dan tersenyum.
Segera saja kuusulkan untuk memakai Lotus. Meskipun modelnya tidak terlalu keren dan sering menjadi bahan ejekan, akan kubuktikan bahwa Lotus bisa menjadi pahlawan di saat-saat tersulit kami. Dan sekali lagi, H*nda menyelamatkan.
Lotus juga mengingatkanku kepada sahabatku. Sahabatku di tempat kerja. Sahabat yang selalu menguatkanku. Kami sering mengambil dan mengantar barang bersama dengan menggunakan Lotus setelah kejadian itu. Salah satu langganan kami adalah kantin MPM Malang. Aku lupa singkatannya. MPM adalah agen penyalur resmi terbesar merk H*nda yang berada di Malang.
Setiap mengantarkan barang ke sana, aku selalu mempunyai keinginan untuk memperbaiki Lotus suatu saat nanti, karena di sana juga ada banyak orang yang memperbaiki motornya. Kadang aku dan temanku selalu berkhayal jika Lotus menjadi peserta Pimp My Ride yang tayang setiap hari minggu siang di MTV itu. Pasti Lotus akan tampak keren. Jadi tidak akan ada yang mengejek Lotus lagi. Temanku selalu sependapat dan kita tergelak bersama. Kami selalu saja berharap, mungkinkah mas-mas di MPM itu suatu saat akan berkenan melakukan make over pada Lotus. Sekali lagi kami tergelak bersama.
Demikianlah hari-hariku kulalui dengan Lotus. Sekarang, tidak hanya teman sekerjaku yang mengenal Lotus, akan tetapi atasanku dan teman-temanku di organisasi dan di kampus juga telah mengenal Lotus. Dengan Lotus, mobilisasiku menjadi tinggi. Setiap hari, aku semakin produktif. Aku bisa berada di bank pada jam delapan pagi untuk setoran uang ke bank, sekaligus mengirim barang pada langganan, lalu menghadap dosen pada pukul sebelas siang.
Ketika banyak temanku bertanya apakah aku tidak lelah dengan segala rutinitasku setiap hari, aku tahu jawabannya dengan pasti. Aku akan berusaha untuk jarang lelah. Kalaupun aku lelah pasti aku akan menjadi kuat kembali. Karena aku mempunyai sahabat yang selalu setia menemani, sahabat yang tidak pernah rewel dan menggerutu ketika kuajak bekerja keras, sahabat yang menemaniku meretas mimpi, mencapai cita-citaku.
Sahabat yang selalu mengingatkanku pada indahnya kerja keras dan sahabat. Sahabat yang selalu menghibur di saat lelahku. Sahabat yang mengingatkanku pada harapan Mami. Sahabat yang mengingatkanku pada cinta dan sayang Bapak.
Sahabat yang bersemangat. Semangat yang lahir dari  sang H*nda, tokoh ulet pembuatnya.  Sahabat yang bisa memantulkan dengan jelas wajah Mbah Kakung dengan gambaran kerja kerasnya di hadapanku. Sahabat yang sama dengan sahabat Mbah Kakung dahulu. Sahabat yang dipilih oleh Mbah Kakung. Sahabat di saat sehat dan sakitnya. Dan pasti aku akan selalu merasakan energi itu melalui tarikan gasnya, decitan remnya, sorot tajam lampunya dan tangguh mesinnya.
Kini kurasa, H*nda benar-benar menjadi sahabat dan semangatku.

NB:
1.    Mbah kakung                              = kakek
2.    Mbah uti (mbah putri)         = nenek

#Ditulis ketika ingin mengikuti lomba mengarang yang diselenggarakan oleh H*NDA. Pas aku berusia 23 tahun. Berharap mendapat hadiah utama berupa sepeda motor H*NDA, tapi sangat kecewa ketika telat satu hari mengirim dari masa deadline-nya. Menangis darah. Hehe.

0 comments:

 
The Hueys Blogger Template by Ipietoon Blogger Template