Tuesday, June 18, 2013

Hidden Misssions

Oh,  it has been 2 months for me being here, in Jakarta! I am going to stay  for another 4 months. Staying here reminds me of my master-degree live. It was a study-oriented life. Work hard, play hard. But, eat shouldn't be the hardest part, right? It should be the easiest part of life. :P

I will tell you about my personal target in this program! Now i am really serious in changing at least two things in my live. In my short speech when i would like to go to Jakarta last April, I said to my colleagues in TIP UB that I would like to increase my IELTS score significantly. Moreover, I would like to change the direction of my scale to the left. Definitely, to the left! Hehe. It was my mom, who really felt annoyed with my overweight. :P


Slowly but sure, I managed to increase my IELTS score but it not that significant, actually. Not bad. But listening is still become my big burden! Do I need to go to see the doctor or go for ear candling? Hehe. Moreover, I also need to add more power on my punches! Say like: add "Bang" instead of "Blup,, blup,,," in the end of my writing.  And also improve my speech with less grammatical errors and use broader range of vocabulary. (><). I will do this,, I can do this!!!yeaaaaaaaaaaah!


Lovely mates and tutor of mine. :*
My next mission is to make my body all muscle! No fat! Hehe. My friend helps me to control my eating pattern. Amie. Her name is Amie. She managed to loose her weight by 12 kgs a month. I guess I get the right tutor here. IELTS and weight loose tutor to succeed my hidden mission. hehe. :p

Bye-bye for now!

Tuesday, June 11, 2013

Mbak Rani Nyanyi 'Cantik' (Kahitna)

Mbak Rani beraksi kembali. :) Kali ini mau nyanyi 'Cantik'-nya Kahitna. Tapi harus dibujuk dulu. Agak gak pede nih. :)


Tapi akhirnya mau juga nyanyi, walaupun putus-putus. Hehe. 

Sunday, April 14, 2013

Rindu

Pernahkah kau merasa rindu?
Rindu yang teramat sangat?

Rindu mendengar ceritanya?
Rindu memotong kukunya?
Rindu meminta nasehatnya?
Rindu bercerita tentang keinginan dan harapan?
Rindu mengenang hari-hari bersama?

Rindu tengadah tangannya?
Rindu tunduk kepalanya?
Rindu semangat berbaginya?
Rindu senyumnya?
Rindu sahajanya?

Sekarang saya rindu dia, Gusti.
Sangat rindu,,,

Sampaikan ridha ini untuknya, 
Bapak,,, 

Sunday, February 3, 2013

Pimpinan

Oleh-oleh Rapim 2013.

"Setiap kita adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya"

Pidato Pak Dekan selalu menggugah. Pertanyaan beliau ketika menutup Rapim siang ini adalah : "Sebenarnya untuk apa sih kita sebenarnya bekerja dan memimpin sekarang ini?"

Lalu lanjut beliau, "Kita bekerja dan memimpin adalah dalam rangka mempercantik dunia..." Mamayu hayuning bawana.

Bawana itu bumi.Bumi mana sajakah yang harus kita pimpin? Semua bumi kita, ada tiga:
Bumi alit : keluarga kita.
Bumi ageng : dunia yang ada di sekitar kita.
Bumi langgeng : alam abadi setelah dunia fana kita.

Terima kasih pak dekan. Mari bekerja sama. *fiuh, bentar lagi ngajar. Banyak kelas yang jumlahnya gila-gilaan.*



Tuesday, August 28, 2012

Menengok kacamatamu. Menyesal tak memotong kukumu. Tapi, terima kasih untuk sepuluh menit siang tadi. -- mayang sunyoto (@mayangsunyoto)

Friday, August 3, 2012

hope today gonna be your reborn day, rainbow. the time when you know yourself and your Creator. barakallah. -- mayang sunyoto (@mayangsunyoto)

Sunday, July 15, 2012

Prajab day one

So, setelah satu tahun, prajab juga ni kita akhirnya. Ini prajabnya UB, yqng hanya 4 hari aja. Coba bandingka dg prajab beneran yang sekitar sebulanan. Diskonny banyak banget. :-P Ada 11 ni rekan sejawat dari FTP yang ikutan... Rombongan TIP tentu saja dengan fantastic fournya: udhe ika, sister djang geum, granny sasa samaaaa brother hendrix yang bela-belain ijin dari kursus persiapan Inggrisnya di IALF Bali. Ehehe. Yap yap. Semangat.
#Ini prajab kok sambil nge-blog, twitteran gt. Hadeh..

Tuesday, July 3, 2012

Heading to Bandung

Hari ketiga stula TIP 2012. yeay, we are heading to Bandung now...! Next destination: Tangkuban Perahu... It`ll be my first!. Semoga lancar sampe sana deh. Amiin.
Setelah kemarin ada sedikit kendala pas berangkat. Bus kita nabrak truk di Ciamis, gara2 ban selip. Sempet horor banget, wong bisa dg jelas liat proses selip smp nabrak truknya secara live. Alhamdulillah, enggak ada korban dari pihak bus kita maupun dari pihak pengendara truk. Padahal truknya ringsek lumayan parah juga!
Korbannya mgkn DOC (day old chicken) yg kmrn diangkut sm truk itu. kyaknya mereka enggak berhenti berkicau.. eh apa sih istilahnya? :-P.
Sama si satu studentku di bus yang agak sensi sama teriakan pasca tabrakan. Akhirnya semua baik2 saja somehow.
Meskipun bus kita harus ganti2 ni mulai dr Ciamis-Jkt, Jkt-Bdg-Semrg, Semrg-Mlg. Gnti tiga kali! Gpp lah asal tidak berganti-ganti pasangan ae. :-P.
Nah, hari ini kita jadwalnya shopping2 sama jalan2 aja seh. Setelah anak2 ditolak mentah2 sm salah satu jurusan d Bdg untuk studi bandung eh banding! Dengan alasan gak ada gedung yang muat untuk rombongan kita yang besar!!!! whoah! Ya udah. Jalan-jalan a lah. So, hbs Bandung, bsk kita berharap kunjungan terakhir di Semarang undercontrol sampai balik ke Malang dngan setumpuk kerjaan yang mengawe-ngawe di depan mata. Yosh-lah! \m/


Monday, June 4, 2012

Hitam Putih

Entah 

Hariku menjadi hitam putih

Kutambahkan hijau menyala daun di tepi hari

Kucoba menggores oranye menyala di catatan kerja

Kuiris mentari mengharap sinarnya

Kubelai manja deretan tulip merona di padang senja

Tetap sama

Hitam putih saja

Gusti, beri hariku warna

Sunday, June 3, 2012

Kurasa

Jepang

Aussie

German

Akan berbeda tanpa pelangi, kurasa.

Harus pergi sendiri?

Atau tetap di sini?

Sampai kapan?

Gusti paring pitulungan.

Thursday, May 24, 2012

Aku di sini

Selalu berharap kau baik-baik saja, Pelangi.
Seperti sebelumnya.
Menemani.
Bersama mengisi hari.

Aku?
Aku selalu di sini.

Friday, March 16, 2012

Sunday, March 4, 2012

Aku essai

Jangan pernah memilih.
Aku bukan pilihan.
Karena aku adalah essai.
Yang menuntut setiap detail jawab dari kerumitan pertanyaan.
(Mayang, 2012)
#Aku orang bulet yang mbulet, memang. Hhehe


Tuesday, February 21, 2012

Fragmen 2

"Akan lebih baik jika aku menjadi wanita panggilan saja. Rasanya tidak akan sesakit ini." Saya hanya melongo. "Wanita panggilan hanya datang saat diperlukan. Menyenangkan pemanggil. Selesai. Tak akan ada rasa. Tak akan ada sakit." 

"Seperti dulu pernah, seorang teman seprofesi yang telah beristri, menjadikan aku sebagai wanita panggilannya. Seringkali aku ditelfon hanya untuk melepaskan kegalauannya. Dia  merasa sangat nyaman dengan aku. Tidak hanya curhat, aku bahkan pernah menemaninya sampai dia mencapai klimaks." Saya melongo dua kali. "Perasaanku saat itu flat dan tidak terasa apa-apa. Saat itu  aku memang memposisikan diri sebagai wanita panggilan." 

"Tapi sekarang, dengan pria ini. Dia lain. Tidak seperti pria-pria lain yang datang memanggilku di saat mereka butuh. Meskipun statusnya hampir mirip dengan mereka. Dia berkekasih." Saya menghela napas. "Kurasa aku harus cepat memprogram perasaanku sebagai gadis panggilan saja. Jika tidak, akan terasa sangat sakit. Sekarang saja, aku sudah merasa sakit saat membayangkan apa yang dilakukanny a dengan kekasihnya ketika sedang tidak bersamaku. Membuat sesak."
"Sebagai wanita, aku pernah berperan sebagai lakon gadis yang ditinggal kekasihnya. Harusnya akan sangat sakit terasa oleh kekasih pria itu jika dia ditinggal pergi kekasihnya. Meskipun dulu aku juga nggak sedih-sedih amat ketika ditinggal. Harusnya aku  mengerti. Dan bukannya malah merasa sakit membayangkan mereka berdua. Perasaan ini sudah tidak benar, dan aku harus berhenti."

"Sudah kuputuskan, aku akan menjadi gadis panggilan saja untuknya. I am single and available, anyway."

#Obrolan di suatu sore


Sunday, February 5, 2012

H*NDA; THE POWER OF ME (H*nda; Semangatku)


Sing tatag bakal tutug (yang tangguh akan sampai pada tujuannya).
Sms singkat dari Bapak itu selalu menguatkanku. Kalimat singkat yang dalam makna. Kalimat itulah yang mungkin selalu membuatku tangguh. Di antara beban kuliah, organisasi dan pekerjaanku.
Mirip Lotus
Namaku Nimas Mayang Sabrina S. Orang-orang di sekelilingku biasa memanggilku May. Usiaku dua puluh tiga tahun. Aku kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri di Malang, Jawa Timur. Semester akhir. Sebentar lagi aku akan menjadi seorang sarjana. Sarjana Teknologi Pertanian. Kalau aku seumur Bapak dan Mami, aku pasti akan dipanggil Bu insinyur.
Menjelang kelulusanku yang tinggal satu langkah ini, kembali berputar banyak kenangan dalam layar putih ingatanku. Banyak fragmen dalam perjalananku. Kerja keras, sahabat, tawa, canda, tangis, bahagia.
Semester pertama, kuliah kulalui dengan biasa-biasa saja. Tinggal di kontrakan putri dengan aktifitas biasa. Belajar, kuliah, praktikum, rapat organisasi, pulang ke kontrakan, tidur. Begitu saja setiap hari. Dan sebagai anak seorang guru SD biasa, aku harus benar-benar hemat dan hidup bersahaja. Kiriman uang dari gaji Mami harus aku manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Sedang dari Bapak, kami biasa tidak terlalu berharap.
Kondisi ini kusyukuri dengan berjuang keras. Memang, Mayang adalah perjuangan tanpa henti-henti. Seperti lagu Dewa. Keadaan mencapai puncak saat aku berhasil meraih IP tertinggi sefakultasku. Mami dan Bapak tentu bangga. Dengan kabar gembira itu, aku ringan menghubungi Mami di rumah. Mami senang. Bahagia. Tapi kala itu tak kutemui Bapak.
Malam harinya Bapak menghubungiku. Mengucapkan selamat dan bercerita tentang keadaan rumah. Cerita Bapak malam itu membuatku tercenung. Cerita yang tak dibeberkan Mami ketika aku telpon tadi pagi. Cerita yang melelehkan mataku. ”Motornya dijual May”.  H*nda Astrea Grand hasil cicilan Mami tiap bulan itu dijual. Sejak Bapak bangkrut dari usaha kerajinan sepatunya ketika aku masih kelas tiga SMA dahulu, memang kondisi keuangan keluarga kami semakin terpuruk.
”Terus, Mami pergi ke sekolah naik apa, Pak?” ”Mami naik angkot May. Bapak tidak bisa berbuat banyak. Semoga kita mendapatkan ganti secepatnya” Kata-kata Bapak berikutnya tidak begitu terdengar jelas. Hanya permintaannya agar aku bersabar yang tersisa di akhir pembicaraan kami malam itu.
Sepeda motor itu, meskipun model lama, tetapi cukup setia menemani kami. Dia yang kugunakan untuk belajar naik sepeda motor pertama kali ketika aku masih kelas tiga Sekolah Menengah Pertama. Dengan sepeda motor itu, Bapak mengantar dan menjemput Mami mengajar di Sekolah Dasar yang terletak di pinggiran kota kecil di kaki Gunung Lawuku. Sepeda motor itu biasa kupakai untuk mengambil kiriman makanan untuk keluargaku dari rumah Nenek di kelurahan sebelah. Dan ternyata dia juga menolong keluargaku di saat-saat tersulit. Kata Bapak, harga jual kembalinya lumayan. Cukup untuk mencoba usaha yang baru, mengirim uang sakuku untuk beberapa bulan, uang gedung dan SPP, membayar uang sekolah adikku dan masih tersisa untuk kondisi yang tak terduga.
Aku mencoba menata hati. Mencari hikmah dan pertolongan. Kutelisik kembali labirin memori. Ingatanku kembali tertuju pada mbah kakung1. Mbah kakungku dulu pasti juga mengalami saat-saat kehilangan sepertiku saat ini. Dulu, saat aku duduk di kelas dua Sekolah Menengah Pertama, Mbah Kakung juga terpaksa menjual salah satu sepeda motor H*ndanya. Sepeda motor tipe Astrea berwarna merah. Model lama. Aku lupa tipenya. Mungkin dulu dibeli ketika aku masih duduk di taman kanak-kanak. Tahun delapan puluhan.
Seperti sepeda motor kami, sepeda motor itu juga telah menemani Mbah Kakung selama bertahun-tahun. Mungkin ikatan hatinya lebih erat. Sepeda motor itu dulu dipakai Mbah Kakung membeli bensin di POM setiap hari. Pukul empat pagi, bahkan sebelum adzan subuh berkumandang. Dua jurigen besar ditempatkan di tempat jurigen yang terbuat dari kantong beras bekas buatan mbah uti2 di sisi kanan dan kiri bagian belakang motor. Mungkin kapasitasnya sekitar lima puluh liter. Setelah itu, Mbah Kakung pergi mengajar di STM Negeri di luar kota, yang berjarak sekitar tiga puluh kilometer arah timur kota kami. Setiap hari. Mbah Kakung berangkat pagi-pagi sebelum matahari terlalu tinggi. Jam lima lewat lima belas menit. Siangnya  Mbah Kakung mengajar lagi di STM Swasta di kota kami. STM yang dia dirikan bersama teman-teman di Yayasannya. Baru malam hari, sepulang dari dari kios bensinnya, Mbah Kakung baru bisa beristirahat, setelah istirahat pendeknya sehabis shalat Ashar.
Aktifitas ini berlangsung selama bertahun-tahun. Dan melekat erat di memoriku. Semangat kerja keras Mbah Kakung. Sejak aku belum bersekolah sampai masa remajaku. Saat di mana aku sudah bisa melihat sesuatu dan menilainya dengan cara pandangku.
Semuanya berhenti saat tiba-tiba Mbah Kakung sakit dengan kandungan haemoglobin darah yang terus menerus turun jika tidak ditransfusi. Ada yang bilang mbah kakung sakit Thalasemia, ada yang bilang mbah kakung sakit Leukimia.   Mbah kakung harus ditransfusi setiap bulan. Jika tidak, haemoglobin Mbah Kakung akan terus berkurang dan kondisi kesehatannya akan terus menurun.
Sebenarnya Mbah Kakung sudah ingin istirahat saja. Tidak ingin ditransfusi. Akan tetapi, Mbah Kakung ingin melihat om menikah. Akhirnya tiga bulan menjelang om menikah, Mbah Kakung memutuskan untuk menjual jagoannya. H*nda Astrea itu. Untuk mempertahankan hidupnya. Meraih keinginannya. Membahagiakan orang yang ada di sekitarnya. Sekali lagi. H*nda menolong di saat-saat tersulit. Di masa sehatnya, H*nda tangguhnya jarang rewel demi menemaninya bekerja keras mencari nafkah untuk keluarganya. Di masa sakitnya, H*nda menjadi iinvestasi nyata yang bisa diandalkan. Mungkin tanpa disadari, H*nda memang telah menemani Mbah Kakung sebagai sahabat. Sahabat pilihan bagi orang-orang pilihan seperti mbah kakung. Mbah Kakung pasti sedih berpisah dengan sahabat yang telah menemaninya sejak lama.
Sejenak hatiku terhibur. Kulebur diriku bersama semangat Mbah Kakung. Dan ternyata hidupku kembali. Dengan semangat, doa dan harapan. Seperti kata Bapak, aku boleh menyelipkan doa agar kami mendapatkan ganti yang lebih baik dari  sepeda motor kami yang telah berpindah tangan.
Doaku terjawab dengan diterimanya aku bekerja paruh waktu di sebuah swalayan yang tidak jauh dari kampusku pada semester kedua kuliahku. Dengan sisa semangat dan harapan yang masih kupunya, aku mencoba untuk bekerja, membantu perekonomian keluarga dengan membiayai kuliahku sendiri. Dengan begitu, kuharap Mami bisa menabung dan kembali membeli ganti H*nda Astrea kami.
Keadaan di rumah membaik. Setelah mengumpulkan uang beberapa lama, Mami bisa membeli sepeda motor H*nda Astrea Star bekas keluaran tahun 1988. Tidak terlalu buruk kondisinya. Sedangkan Bapak mendapat pekerjaan untuk memasarkan satu merk rokok. Bapak mendapat pinjaman sepeda motor dari pabrik. Alhamdulillah, Mami tidak perlu lagi naik angkot ke sekolah.
Di Malang, kondisiku juga semakin membaik. Selain mendapat gaji dari pekerjaanku, ternyata aku juga mendapat beasiswa yang semakin meringankan langkahku. Anganku melambung lagi. Aku ingin menabung. Memiliki sepeda motor sendiri adalah impianku. Apalagi ketika perjalanan tempat kerja ke kampusku lumayan memakan energi jika kutempuh dengan berjalan. Jika naik kendaraan umum, tentu akan sedikit terasa di dompetku.
Saat kuutarakan niatku pada Bapak, Bapak melarangku membeli motor sendiri. Beliau mengharapkan aku bsa menabung untuk masa depanku. Jadi, Bapak berjanji akan memperbaiki sepeda motor yang dibeli oleh Mami dan akan mengirimkannya ke Malang untukku.
Bagian yang paling seru adalah saat kita memberi nama motor butut baruku itu saat. Kata bapak disuruh menamai Kebo Giro, katanya Kebo Giro itu tumpangan tokoh pewayangan entah siapa namanya. Tapi mami tidak setuju. Katanya lebih baik dinamai Lembu Andini. Katanya lebih feminin, tapi kupikir nama itu terlalu panjang. Kata adikku lebih baik dinamai Buroq, tumpangan Rasulullah. Jadi bingung akhirnya. Tapi tiba-tiba mami  nyeletuk lebih baik dinamai Lotus saja. Kata mami, Lotus itu artinya Teratai. Bunganya indah dan tangguh. Kalau lihat di film Kera Sakti, Lotus itu tumpangan Dewi Kwan In. Kata Mami,”Mbak May kan mukanya agak mirip sama Dewi Kwan In!” Ah, mami bisa saja. Tapi akhirnya kami sepakat menamainya Lotus. 
30 November 2006. Tepat di hari ulang tahunku ke 22. Bapak mengantarkan Lotus sendiri ke Malang. Mengendarainya sendirian dari kotaku di Lereng Gunung Lawu di ujung barat Jawa Timur sampai ke Malang, tempatku menuntut ilmu. Aku agak kaget  melihat kenyataan bahwa ternyata Lotus tangguh juga. Aku mengira Bapak mengirimnya lewat pos atau jasa penitipan, tapi ternyata tidak. Lotus tua masih cukup tangguh di tangan penjelajah jalanan seperti Bapak. Sampai saatnya Lotus tiba di Malang, aku merasa Lotus tua terlihat lebih istimewa. Ada cinta Bapak dan harapan orang rumah di sana. Ah, Lotus. Andai manusia, pasti akan kupeluk engkau.
Lotus, meskipun modelnya antik, tidak seperti punya teman-teman di kampus yang keluaran terbaru, tapi itu cukup bagiku. Membuatku semakin semangat berjuang. Lotus sering menyelamatkan di saat detik-detik terakhir jam mulai kuliahku. Lotus menemaniku berjalan-jalan di kota Malang. Saat aku butuh buku di Pasar Buku Bekas ‘Wilis’, saat aku berangkat rapat di pagi hari, saat aku mengantar teman sekelasku pulang ke kosnya. Bahkan saat aku merasa cemas dan mempunyai beban yang tidak bisa kubagi, aku bercerita kepada Lotus seperti bercerita kepada buku harian atau kepada mami. Hal itu terkadang kurasa lebih membuatku nyaman, karena Lotus tak akan menertawakanku. Kadang-kadang aku memang berlebihan.
Lotus siap menemaniku di pagi, siang dan malam hari. Kata teman kerjaku, Lotus itu tidak seperti P*sodent yang setia dua belas jam, Ba*gon yang setia dua puluh empat jam, H*t yang setia empat puluh delapan jam, tapi Lotus itu seperti Rex*na yang setia setiap saat. Dasar pegawai swalayan, semuanya dikaitkan dengan barang dagangan! Temanku memang paling bisa jika mengolok-olok kedekatanku dengan Lotus.
Sering ketika akan menghidupkan mesinnya, dan Lotus agak bandel, pasti akan kuelus kepalanya (aku selalu menganggap spedometer Lotus itu kepalanya!). Dan bisa dipastikan tukang parkir di swalayan tempat aku bekerja tergelak dan menggelang-gelengkan kepalanya.
Pernah suatu kali aku kecewa dengan Lotus. Dia mogok tiba-tiba. Aku bingung harus berbuat apa. Sebagai seorang gadis, aku tidak terlalu familiar dengan hal-hal yang bersangkutan dengan mesin. Aku diam saja dan mengingat-ingat, apa yang dilakukan Bapak atau Adik laki-lakiku jika sepeda motor kami di rumah mogok. Aku mulai mengecek bensinnya. Tapi seingatku aku baru saja mengisinya dan Lotuspun tidak boros dalam hal bensin. Aku bingung. Sampai akhirnya tukang parkir yang ada di lapangan parkir gedung kuliahku datang untuk menolong. Sejurus kemudian tukang parkir memeriksa Lotus. Setelah mengidentifikasi selama beberapa saat, tukang parkir tersebut mengatakan bahwa busi Lotus kotor. Dengan sedikit sentuhan, Lotus bisa dihidupkan kembali. Dari pengalaman tersebut, aku menjadi sadar bahwa tidak boleh hanya sekedar sayang kepada Lotus, tetapi harus tetap melakukan prosedur perawatan secara berkala. Karena prosedurnya tidak terlalu rumit, aku yakin aku bisa melakukannya sendiri kelak.
Aku bersyukur karena Lotus mudah untuk diperiksa dan diperbaiki. Kemarin, terakhir aku mengambil barang dengan kendaraan swalayan, rumit sekali untuk memperbaiki kendaraan itu ketika rewel. Kebetulan swalayan kami memiliki kendaraan roda dua yang mempunyai merk di luar H*nda. Kendaraan tersebut sering sekali rewel, apalagi di musim hujan seperti sekarang ini. Setelah dipakai ketika hari hujan, setelah itu susah untuk distarter. Ketika mas di bengkel sebelah swalayan kami akan melihat businya, ternyata harus membongkar banyak mur dan baut di bagian depan kendaraan tersebut. Hanya untuk mengecek busi. Diperlukan waktu yang lama dan biaya yang semakin mahal. Kegiatan swalayan menjadi terganggu. Swalayan tidak bisa mengambil dan mengantar barang serta melakukan setoran uang ke bank. Aku teringat Lotus dan tersenyum.
Segera saja kuusulkan untuk memakai Lotus. Meskipun modelnya tidak terlalu keren dan sering menjadi bahan ejekan, akan kubuktikan bahwa Lotus bisa menjadi pahlawan di saat-saat tersulit kami. Dan sekali lagi, H*nda menyelamatkan.
Lotus juga mengingatkanku kepada sahabatku. Sahabatku di tempat kerja. Sahabat yang selalu menguatkanku. Kami sering mengambil dan mengantar barang bersama dengan menggunakan Lotus setelah kejadian itu. Salah satu langganan kami adalah kantin MPM Malang. Aku lupa singkatannya. MPM adalah agen penyalur resmi terbesar merk H*nda yang berada di Malang.
Setiap mengantarkan barang ke sana, aku selalu mempunyai keinginan untuk memperbaiki Lotus suatu saat nanti, karena di sana juga ada banyak orang yang memperbaiki motornya. Kadang aku dan temanku selalu berkhayal jika Lotus menjadi peserta Pimp My Ride yang tayang setiap hari minggu siang di MTV itu. Pasti Lotus akan tampak keren. Jadi tidak akan ada yang mengejek Lotus lagi. Temanku selalu sependapat dan kita tergelak bersama. Kami selalu saja berharap, mungkinkah mas-mas di MPM itu suatu saat akan berkenan melakukan make over pada Lotus. Sekali lagi kami tergelak bersama.
Demikianlah hari-hariku kulalui dengan Lotus. Sekarang, tidak hanya teman sekerjaku yang mengenal Lotus, akan tetapi atasanku dan teman-temanku di organisasi dan di kampus juga telah mengenal Lotus. Dengan Lotus, mobilisasiku menjadi tinggi. Setiap hari, aku semakin produktif. Aku bisa berada di bank pada jam delapan pagi untuk setoran uang ke bank, sekaligus mengirim barang pada langganan, lalu menghadap dosen pada pukul sebelas siang.
Ketika banyak temanku bertanya apakah aku tidak lelah dengan segala rutinitasku setiap hari, aku tahu jawabannya dengan pasti. Aku akan berusaha untuk jarang lelah. Kalaupun aku lelah pasti aku akan menjadi kuat kembali. Karena aku mempunyai sahabat yang selalu setia menemani, sahabat yang tidak pernah rewel dan menggerutu ketika kuajak bekerja keras, sahabat yang menemaniku meretas mimpi, mencapai cita-citaku.
Sahabat yang selalu mengingatkanku pada indahnya kerja keras dan sahabat. Sahabat yang selalu menghibur di saat lelahku. Sahabat yang mengingatkanku pada harapan Mami. Sahabat yang mengingatkanku pada cinta dan sayang Bapak.
Sahabat yang bersemangat. Semangat yang lahir dari  sang H*nda, tokoh ulet pembuatnya.  Sahabat yang bisa memantulkan dengan jelas wajah Mbah Kakung dengan gambaran kerja kerasnya di hadapanku. Sahabat yang sama dengan sahabat Mbah Kakung dahulu. Sahabat yang dipilih oleh Mbah Kakung. Sahabat di saat sehat dan sakitnya. Dan pasti aku akan selalu merasakan energi itu melalui tarikan gasnya, decitan remnya, sorot tajam lampunya dan tangguh mesinnya.
Kini kurasa, H*nda benar-benar menjadi sahabat dan semangatku.

NB:
1.    Mbah kakung                              = kakek
2.    Mbah uti (mbah putri)         = nenek

#Ditulis ketika ingin mengikuti lomba mengarang yang diselenggarakan oleh H*NDA. Pas aku berusia 23 tahun. Berharap mendapat hadiah utama berupa sepeda motor H*NDA, tapi sangat kecewa ketika telat satu hari mengirim dari masa deadline-nya. Menangis darah. Hehe.

Thursday, February 2, 2012

So Cold, na

 
The lowest level of temperature going to be around 20 degree Celcius. Fortunately, I have so many fat to warm myself up. Hehe. But need pair of thick shock, though.
It is so cold tonight










Wednesday, January 4, 2012

Low Ceiling Room

Hoah. Rapat reboan. Jam 9 - 3. Suntuk banget. Hehe. Gara-gara tadi sambil liat-liat design kursi buat kursi tunggu jurusan, jadi browsing-browsing beberapa design kamar. :P Nggak tau kenapa dari dulu selalu pengen punya kamar beratap rendah.

Hmmm. Kayaknya sih terpengaruh deskripsi di novel-novel Lima Sekawan yang menemani masa kecilku. Hehe. Selalu begitu bayangan kamar mereka di benakku. Jadi nanti pengen banget, kalo bisa bikin rumah, ada satu kamar ato ruang beratap rendah di loteng. Hehe. Ini satu dua contohnya. Keren banget je. 
Kamarnya terang. Guwe banget. Hehe. Atapnya rendah tapi nggak terlihat sumpek. Ya kan. Bayangin minggu siang leyeh-leyeh sambil baca buku sampek ketiduran. haha. 
 Lihat tangganya. Keren juga seh. Yang ini lega banget. Tapi kok gak terlalu terang ya.  Kalo hujan kayaknya agak terlihat ngeri.

 Warna putih ternyata bikin ruangan jadi tambah luas ya. Tapi lubang di kanan itu juga kasih penerangan yang melimpah. 

 Yang ini bagus buat anak kembar kita, pak. heheh. Tapi kayaknya warnane yang cerahan dikit deh. Gimana kalo kayak gini:

Atau ini:




Hehe. Pengeeeeeen. (>_<).
Udah ah. :P :P :P

Thursday, December 22, 2011

Said bin Amir

Adalah Said bin Amir, seorang kafir Qurays yang tertarik untuk masuk Islam ketika melihat ketenangan sahabat Rasul Khabaib in Adi yang dibunuh oleh musyrikin Mekkah kala itu. Ketika menjelang eksekusi, Khabaib bin Adi meminta kesempatan untuk melakukan shalat dua rakaat. Shalat dua rakaat terakhir yang sangat tenang dan damai. Yang efeknya dapat dirasakan secara langsung oleh Said bin Amir yang saat itu menyaksikan di antara sekian ribu orang yang ada. Dan jika karena tidak akan segera dihukum , tentu Khabaib bin Adi akan memanjangkan rakaat shalatnya.

Kekuatan apa yang begitu dahsyat sehingga dapat mendamaikan Khabaib bin adi yang memutuskan untuk tetap setia sampai akhir masa hidupnya? Itu yang dipikirkan oleh Said bin Amir yang kemudian berjanji setia memeluk Islam dan menjadi pendamping setia Rasulullah SAW hingga beliau wafat sekalipun.

Hingga pada suatu hari, ketika Rasul telah wafat dan khalifah Umar meminta beliau untuk menjadi Gubernur di Hom (sekitar Suriah sekarang ini). “Wahai Said, kami telah melantik engkau sebagai Gabenor Hims” Lalu dibalas oleh Said dengan katanya: “Wahai Umar. aku memohon kepada Allah agar engkau tidak mendorong diriku condong kepada dunia.” Lalu dengan marahnya Khalifah Umar membalas: “Celakalah engkau! Engkau meletakkan amanah pimpinan dibahuku, lalu engkau membiarkan aku sendirian.” lalu dijawab oleh Said: “ Demi Allah! Aku tidak akan membiarkan engkau bersendirian.” Selepas itu pun beliau berangkat melaksanakan amanah ke Bumi Homs.

Suatu saat Khalifah melakukan kunjungan ke Homs, dan bertanya pada beberapa penduduknya tentang bagaimana pemerintahan yang dipimpin oleh Said bin Amir. Secara keseluruhan mereka menjawab kepemimpinan Said bi Amir sudah berjalan cukup baik, namun, mereka mempunyai beberapa hal untuk dikemukakan kepada Khalifah Umar, yaitu bahwa:
1. Said bin Amir selalu datang pada hari menjelang siang.
2. Said bin Amir hanya bersedia melayani rakyat dari siang sampai sore, dan tidak bersedia diganggu ketika malam datang.
3. Sekali sebulan Said bin Amir sama sekali tidak datang untuk bekerja.
4. Terkadang Said bin Amir tiba-tiba pingsan.

Demi mendengar keluhan dari masyarakat ini, Khalifah Umar mendatangi Said bin Amir untuk melakukan konfirmasi / tabbayun. Kemudian beliau menanyakan tentang kebenaran keluhan itu pada Said bin Amir. Said bin Amir berkata bahwa semua keluhan tentang dirinya adalah benar. Tapi beliau memiliki beberapa alasan mengapa melakukan hal tersebut:
1. Beliau datang pada hari menjeang siang karena harus terlebih dahulu mengerjakan pekerjaan rumah karena tidak ada pembantu di rumahnya.
2. Malam hari beliau khususnya waktunya untuk beribadah kepada Allah, sehingga beliau tidak mau digannggu oleh urusan duniawi.
3. Setiap bulan satu kali beliau harus mencuci satu-satunya baju yang beliau miliki, praktis tak ada lagi baju yang bisa yang bisa beliau pakai.
4. Terkadang beliau pingsan karena teringat dengan kematian sahabat Khabaib bin Adi di depan matanya ketiak beliau masih termasuk kamu musyirikn Mekkah dahulu.

Subhanallah begitu rendah hatinya Said bin Amir sebagai seorang Gubernur yang seharusnya memiliki kehidupan yang boleh jadi mewah. Beliau begitu hati-hati menjaga amanah duniawinya agar tidak mencondongkan hatinya dari Allah. Bagaimana beliau bisa membagi waktunya agar terjadi keseimbangan antara amanah duniawi dan kepentingan ukhrawi. Jadi teringat kata Pak Arif Alamsyah di Acara "Inner-Outer Beauty and Strees Relesae" di RS Permata Bunda, Sabtu, 17 Desember 2011 yang lalu. Jangan sampai kita seperti kata-kata ini: "Busy,,,Busy,,,Busy,,,Dead,,," Kata-kata ini terasa sangat menyesakkan bagi saya, karena sudah hampir dua bulan kemarin bahkan saya tidak sempat menyisihkan waktu untuk menghadiri pengajian pekanan yang biasanya saya ikuti. Semua karena kerja, kerja dan kerja. Sibuk, sibuk dan sibuk. Dan tanpa pernah sadar, mungkin tiba-tiba sudah tua dan sudah satnya menghadap kembali padaNya.

Untuk menghindari terjadinya hal itu, apa yang dilakukan oleh Said bin Amir perlu kita contoh. Setidaknya kita sediakan waktu luang untuk kegiatan yang benar-benar kaya meaning instead of pleasure. Bagaimana bisa memilih kegiatan di  waktu libur antara untuk nonton filem Korea dengan melakukan silaturahim misalnya. Target berikutnya insyaAllah. Mungkin nonton Filem Korea mempunyai high pleasure, tapi bagaimana dengan meaning-nya. Kira-kira seperti itu. :) Selain itu juga mungkin dapat mengatur waktu antara pekerjaan dunia dengan akhirat. Semoga gak sering bolos ngaji lagi. :P

Said bin Amir dikenal sebagai gubernur yang sangat sederhana, bahkan ketika Khalifah Umar mengutus seorang sahabat untuk mengumpulkan daftar penerima zakat di Homs, nama Said bin Amir termasuk di dalamnya! Maka Khalifah Umar pun memerintahkan untuk mengirimkan uang sebanyak 1000 dinar untuk Said bin Amir. Namun, apa yang dilakukan oleh beliau? Beliau membagi-bagikan uang tersebut kepada rakyatnya yang membutuhkan. Kelebihan uang kemudian beliau simpan. Ketika ditanya oleh istrinya, mengapa uang tersebut tidak digunakan untuk membayar pembantu dan membeli baju? Beliau berkata: suatu saat akan datang seseorang yang mungkin lebih memerlukan uang ini daripada kita. Subhanallah,,,

Mungkin susah bagi kita untuk menerima cerita ini? Masihkah ada pemimpin seperti itu sekarang ini? Hemmm. Tauk deh. Tapi yang jelas juga, penggalan cerita terakhir seperti mengiyakan pernyataan Pak Arif Alamsyah juga bahwa : Keluarga adalah yang utama, tetapi umat adalah lebih utama. :)

Wallahu'alam.
#Menulis cerita ini karena dapat tugas untuk mereview biografi sahabat di ngaji pekanan pekan ini. :)

Wednesday, December 21, 2011

Yang terlewatkan

Ampun, Gusti.
Telah melewatkannya

Ampun, Gusti
Jarang menganggapnya ada


Ampun Gusti,
Suka Lupa

Ada dua lubang di sana
Yang membuatku tetap ada

Sore ini buntet tak terkira
Ampun Gustiiiiiiiiiiiiiiii T_T


Semoga besok bisa kembali bernapas lega...

Sekali lagi ampun Gusti,,,









 
The Hueys Blogger Template by Ipietoon Blogger Template